Kesehatan

Ragam Penyakit Flu, Identifikasi Penyebab, Gejala dan Terapi Herbalnya

Dalam beberapa tahun terakhir, infeksi saluran pernapasan terutama virus influenza telah berdampak besar pada masyarakat di seluruh dunia. Kebanyakan pandemi yang terjadi di dunia disebabkan oleh virus influenza, virus flu dapat berubah dari waktu ke waktu dan umumnya para ahli memprediksi perubahan yang terjadi bahkan muncul virus baru yang dapat bermutasi. Penyakit saluran pernapasan yang saat ini tengah melanda dunia pun menjadi perhatian global, yakni virus Sars Cov 2 atau Covid 19.

Sebelum Covid 19 melanda dunia ada beberapa virus yang pernah terjadi diantaranya : 1. Flu Asia Penyakit pandemi lainnya yang pernah terjadi dan menyerang banyak daerah di seluruh dunia adalah flu asia.

Penyakit ini berasal dari wabah pandemi influenza A subtipe H2N2. Awalnya, penyebaran gangguan ini dari China pada 1956 1958. Beberapa daerah yang terkena penyakit ini adalah Singapura, Hong Kong, dan Amerika Serikat. Flu asia ini tercatat menyebabkan kematian sebanyak 2 juta jiwa. 2. Flu Babi

Penyakit pandemi lainnya yang disebabkan oleh flu adalah flu babi. Hal ini disebabkan oleh virus baru dengan jenis H1N1 yang berasal dari Meksiko pada 2009 sebelum menyebar hingga ke seluruh dunia. Total infeksi yang terjadi karena penyakit ini adalah 1,4 miliar orang dengan angka kematian dapat mencapai 500.000 ribu orang.

3. Flu Spanyol Flu Spanyol juga termasuk salah satu pandemi yang menyebar ke seluruh dunia. Sekitar 500 juta orang menjadi korban dari penyakit ini dan sekitar seperlima dari total tersebut meninggal dunia.

Hal tersebut diperparah karena bersamaan dengan terjadinya Perang Dunia I. Faktanya, penyakit ini tidak berasal dari negara tersebut, hanya pemberitaan berasal dari situ. Maka dari itu, hingga saat ini penyakit tersebut disebut flu Spanyol. 4. Flu Burung

Flu burung disebabkan oleh infeksi virus influenza tipe A yang berasal dari burung. Sebagian besar jenis virus flu burung hanya dapat menyerang dan menular pada unggas, baik unggas liar maupun unggas peternakan, seperti ayam, bebek, angsa, dan burung. Dari ulasan di atas penyakit yang menyerang pernapasan sangatlah berbahaya dikarenakan fitur genetik virus yang membuat mudah bermutasi menjadi ancaman.

Perlu ada tindakan pencegahan apabila gejala flu ringan sudah mulai menyerang tubuh. Alternatif penggunaan bahan alami sangat berperan dapat membantu mengendalikan wabah pandemi virus terutama pada masa Covid 19 yang belum dapat diperkirakan kapan berakhir. Karena itu, dengan mengurangi gejala penyakit dengan bahan alami ini tentu dapat menjadi pilihan utama dengan momen masyarakat saat ini sudah cerdas mengonsumsi obat berbahan dasar dari alam.

Prof. Dr. Syamsuddin, M.Biomed., Apt mengatakan, daya tarik pengobatan herbal adalah spektrum luas target virus potensial, karena komponen herbal ini dapat berinteraksi dengan protein virus yang berbeda dan tidak dibatasi oleh perbedaan strain virus dan mutasi yang resistan terhadap obat akibatnya setiap virus influenza rentan. "Ekstrak sering memiliki sifat antibakteri, anti inflamasi, dan anti oksidan, yang semuanya akan menjadi bermanfaat selama infeksi influenza," ungkapnya, Selasa (17/8/2021). Ekstrak herbal dapat melawan influenza dengan penghambatan neuraminidase, mencegah virus, menstinulasi produksi IFN gamma oleh sel T.

Selain itu juga bekerja menghambat aktivitas hemaglutinasi virus yang berpenetrasi ke dalam sel inang di dalam tubuh, peningkatan produksi immunoglobulin virus anti influenza, sintesis penghambatan RNA dan protein virus, menekan replikasi virus influenza. Khasiat lainnya adalah menginduksi sekresi IFN tipe I dan sitokin pro inflamasi dengan stimulasi selanjutnya dari aktivitas antivirus dan dapat merusak struktur virion dalam virus flu. Dijelaskan, ekstrak Zingiber officinale rhizome (jahe), ekstrak Camelia sinensis folium (daun teh), ekstrak Cinnamomum burmannii (kayu manis), ekstrak Mentha arvensis folium (daun poko mint) dipercaya secara empiris dapat meringankan gejala flu sejak lama.

"Polyherbal bekerja memberikan efek sinergis berdasaekan jejaring dengan protein target," bebernya. Berikut penjelasan dari masing masing kandungan: 1. Zingiber officinale rhizome (Jahe)

Jahe mengandung senyawa yang disebut gingerol dan shogaols. Para peneliti percaya bahwa senyawa tersebut berperan aktif. Beberapa studi menunjukkan jahe berkhasiat dalam terapi influenza. Berikut rinciannya: Antibakteri

Sebuah studi menunjukkan efek antibakteri yang lebih tinggi daripada antibiotik terhadap Staphylococcus aureus dan Streptococcus pyogenes. S. pyogenes adalah bakteri yang menyebabkan faringitis streptokokus, yang dikenal sebagai radang tenggorokan. Antivirus

Dalam studi jahe menunjukkan sifat antivirus. Pada hewan coba, peneliti juga menemukan efektif melawan rasa sakit dan demam. Jahe segar mungkin bermanfaat melawan virus pernapasan. Sebuah studi menunjukkan bahwa jahe segar memiliki efek antivirus pada model infeksi pernapasan. Antiinflamasi. Dalam model laboratorium infeksi tenggorokan, jahe menunjukkan aktivitas anti inflamasi.

Para peneliti menyarankan bahwa jahe dapat mengurangi faringitis, yaitu peradangan di bagian belakang tenggorokan. Antioksidan. Selain itu, penelitian laboratorium menemukan bahwa jahe memiliki efek antioksidan tertinggi. Antioksidan membantu mencegah kerusakan sel akibat peradangan.

2. Camelia sinensis folium/ daun teh Komposisi kimia daun teh sepertiganya berupa polifenol. Katekin dari kelompok flavonoid merupakan kelompok terbesar. Katekin utamanya yaitu epikatekin galat, epikatekin, epigalokatekin (EGCG) dan epigalokatekin galat.

Katekin merupakan kelompok besar senyawa kimia yang bermanfaat untuk kesehatan karena sebagai sumber antioksidan. Katekin cepat diserap ke dalam tubuh dan berhubungan dengan beberapa potensi manfaat yang dikandungnya. Sebuah Review artikel oleh Daisuke, et al tahun 2018 mengatakan katekin telah dilaporkan sebagai agen virus anti influenza potensial dalam beberapa percobaan studi.

Sebuah studi in vitro menunjukkan bahwa katekin paling melimpah dalam teh, terbukti meminimalkan infektivitas virus influenza A dan B. 3. Cinnamomum burmannii/ kayu manis Kayu manis (Family Lauraceae) memiliki zat, stimulan penghangat, karminatif, pembersih darah, pencernaan, antiseptik, antijamur, antivirus dan antibakteri.

Selain itu juga bekerja sebagai antioksidan, antiinflamasi dan imunomodulator khasiatnya dan juga membantu menurunkan kadar kolesterol dan gula darah. Senyawa fitokimia termasuk aldehida, asetat, alkohol, terpen, flavonoid, alkaloid, antrakuinon, kumarin, fenol, saponin, tanin, asam karboksilat, hidrokarbon, camphene, spathulenol, asam lemak, aktin odaphnine, butanolides, lignan, steroid, propenoid dan kaempferol glikosida. Kandungan tersebut dapat berkhasiat sebagai kandidat obat alami virus influenza.

Menurut Fabros et al kandungan utama kayu manis adalah sinamaldehida, sebuah aldehida yang ditemukan di kulit kayu manis merupakan konstituen organik utama dari minyak kayu manis dalam potensi sebagai obat. Pengembangan dan pemanfaatan tanaman obat yang memiliki sifat antivirus merupakan salah satu alternatif pengendalian patogen virus spesifik terhadap sindrom virus reproduksi dan pernapasan seperti influenza dari efek antivirus cinnamaldehyde C. burmannii. Dalam penelitian, hasil menunjukkan bahwa sinaldehida mengurangi virus titer secara moderat sekitar 10 hingga 40 persen dan 13,75 persen hingga 25 persen.

Hasil ini menunjukkan potensi sinaladehida dari minyak atsiri sebagai anti virus influenza. 4. Mentha arvensis folium / daun poko mint Mentha arvensis megandung sejumlah besar senyawa minyak atsiri menthol, vitamin A, C dan B komplek.

Rajinder Singh, 2011 meneliti aktivitas antibakteri dari Mentha arvensis terhadap beberapa strain bakteri Gram positif dan Gram negatif ditemukan minyak atsiri menghambat pertumbuhan mikroorganisme dan hasilnya sebanding dengan antibiotik gentamisin. Kemudian minyak atsiri berupa menthol menunjukkan aktivitas antivirus dan antifungi. Antivirus yang signifikan adalah menghambat aktivitas virus influenza. Dari hasil studi tersebut menyimpulkan Mentha arvensis potensial sebagai antibakteri dan dapat dijadikan pilihan tanaman berkhasiat untuk influenza. (berbagai sumber/*)

Artikel ini merupakan bagian dari KG Media. Ruang aktualisasi diri perempuan untuk mencapai mimpinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.